Google+ Followers

Rabu, 31 Oktober 2012

Bobot, Bibit, Bebet
Gegarane wong akrami dudu bandha dudu rupo, amung ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen angel angel kelangkung tan kena tinumbas arta (Rambu rambu pernikahan bukan soal harta dan bukan karena wajah. Hanyalah hati yang menjadi modal pertimbangannya, Jika sekali salah jika benar pun sekali. Jika telanjur sulit, maka sulitnya luar biasa, tak bisa dibeli dengan harta). Demikian ungkapan atau refleksi pujangga Jawa mengenai gegarane wong akrami .
Betapa pentingnya rambu-rambu pernikahanini. Karena pernikahan buka sekadar hubungan lelaki dan perembuan berdasar naluri seksual. Pernikahan merupakan perjanjian yang snagat koko (mithaqan ghlizan). Perjanjian lahir dan batin seorang lelaki dan perempuan untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera sesuai dengan ketentuan sang pencipta dalam rangka berbakti dan beribadah kepad-Nya.
Berawal dari kehati-hatian menghadapi perkawinan itu pula, pujangga Jawa memberi rambu dalam memilih jodoh. Orang Jawa harus melihat dan mempertimbangkan obor-obor atau dom sumusupe banyu. Ada tiga hal penting yang menjadi pertimbangan itu.
Pertama, Bobot. Yakni menyeleksi kualitas calon pasangan pengantin. Hal ini sangat ditekankan terutama untuk calon pengantin laki-laki. Karena bahagia atau tidaknya seorang isteri sangat dipengaruhi oleh tingginya kualitas pendidikan dari sang suami. Hal ini akan sangat berpengaruh padakestabilitasan sosial ekonomi rumah tangga yang akan dijalaninya.
Kedua, Bibit. Yakni pertimbangan berdasarkan keturunan atau keadaan orang tua sang calon pengantin. Keturunan ini pula yang nantinya sangat berpengaruh pada keadaan sosial kemasyarakatan dalam rumahtangga yang akan dijalani oleh si pengantin. Tentu ada beban psikologi sosial yang tinggi seandainya sang calon pengantin memiliki latar belakang kehidupan yang cacat dari sudut pandang sosial masyarakat.
Ketiga, Bebet. Perangai dari sang calon pasangan mempelai perlu dipelajari untuk menjadi bahan pertimbangan yang sangat matang sebelum menuju ke jenjang pernikan. Orang yang baik bisa dilihat dari ketercapaian hasil pada suatu proses sosialisasi di keluarga.
Bahasa Jawa dan Muatan Filsafatnya
Jelas sekali bahwa Bahasa Jawa sebagai salahsatu simbol budaya memiliki satu derajat yang membanggakan, dikatakan edi peni (penuh dengan nilai estetis) dan adi luhung (luhur dan bermartabat). Hal ini yang selama ini masih membekaskan rasa bangga pada diri kita semua adalah bahasa Jawa telah mampu bertahan dan terbina selama berabad-abad. Menjadi alangkah menyedihkan kalau pada akhirnya kita kehilangan keedipenian serta keadiluhungan bahasa Jawa.
Oleh manusia, bahasa digunakan untuk menyatakan perasaan, keinginan dan kebutuhan atau untuk mendapatkan keterangan. Penggunaan bahasa lebih kompleks dan maju adalah menyatakan reasoning, menerangkan sebab-akibat, yaitu satu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia dari pengetahuan yang ada untuk memperolah pengetahuan lainnya. Maka lahirlah berbagai bentuk filsafat nan anggun dan indah penuh dengan muatan tuntunan hidup yang pada akhirnya akan membawa manusia pada jalan hidup yang cerah.
Dengan kata lain, berfilsafat adalah suatu aktifitas untuk menggunakan akal dan budi, sedalam-dalamnya dengan penuh tanggung jawab untuk mengungkapkan misteri masalah kehidupan sebelum akhirnya sampaipada satu kesimpulan yang universal.
Ada pepatah yang berbunyi, “Wong Jawa nggoning rasa, pada gulange ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, kuwana nahan hawa, kinemat mamoting driyo”. (Orang Jawa itu tempatnya di perasaan, Mereka selalu bergulat dengan kalbu dan suara hati, agar pintar menangkap maksud yang tersembunyi, dengan jalan menahan hawa nafsu sehingga dapat mengetahui apa sebenarnya maksud yang tersembunyi). Perasaan atau intuisi memegang peranan yang sangat penting di samping keberadaan jiwa dan akal.
Dengan merunut penggunaan istilah bahasa yang dipakai, nampak sekali tradisi dan tindakan orang Jawa selalu berpegang teguhpada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Orang Jawa menempatkan kemuliaan hidup di atas segalanya.
Keberadaan filsafat Jawa ini diakui oleh sarjana Barat, Robert Jay seorang peneliti dalam bukunya Religion and Politics in CentralRural Jawa. Dikatakannya bahwa pemikiran Jawa tradisional menerangkan sistim filsafat lengkap dan pengindahan hidup yang menyentuh hati.***
(Dimuat di Majalah BENDE Nomor 87 – Januari2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar