Google+ Followers

Selasa, 30 Oktober 2012

sanepo

SANEPO
Dalam susastra Jawa memang penuh sanepo atau dikenal sebagai tembung anduporo, yaitu ungkapan kata dan kalimat yang mengandung maksud tertentu. Yang tahu persis makna sanepan atau pasemon tersebut tentunya sang pujangga itu sendiri. Bagi para cerdik pandai yang tidak memiliki keahlian khusus harus bekerjasama dengan ahli bahasa dan kirata basa Jawa. Seperti misalnya cangkir, mengandung maksud nancang pikir, atau mengikat pikiran. Sadhakkinang, mengandung arti kelamin laki-laki. Kedhu pingit, adalah keadaan gadis yang tidak diperkenankan pergi ke mana-mana sebelum dipinang lelaki. Atau seorang gadis begitu menginjak sebelas tahun sudah tidak diperkenankan keluar rumah. Mengikuti pingitan, atau kurungan supaya tidak menghadapi bahaya.
Gusdur pernah bilang pada Yusuf, disuruh mengumpulkan tiga macam air. Semula Yusufberpikir, mungkin banyu asin, banyu towo, banyu susu. Nyatanya yang diinginkan Gusdur adalah Banyuwangi, Banyubiru dan Banyumas, sesuai penilaian Nurkholis Maza. Penilaian Nurkholis Maza ini dibenarkan oleh Gusdur, maka Yusuf pun segera berangkat menuju ke tiga tempat tersebut menemui Kyai atau orang paling pintar di ketiga tempat tersebut.
Tetapi Yusuf ketika sampai di Banyumas tidak berhasil menemui Kyai Akhmad, sampaiakhirnya Gusdur sendiri yang harus mengunjungi ketiga tempat tersebut.
Kembali pada sanepo tersebut. Siapa saja yang berhasil mengartikan sanepo atau cangkriman, atau ungkapan-ungkapan tersebut, dia akan menjadi orang bijaksana.
Mengapa orang-orang Jawa suka menggunakan sanepo? Pertama, orang Jawa berusaha menjaga sopan-santun supaya orang lain tidak tersinggung. Kedua, menghindari konflik bagi yang tidak berkenan dengan isi pasemon dan sanepo tersebut, dengan demikian menghindari perselisihan dengan sesama. Ketiga, mengajak berpikir cerdas hati, pikiran, dan perasaan dalam hidup.
Jadi tujuan sanepo adalah memberikan inspirasi, memancing imajinasi bagi yang ingin meningkatkan kebijakan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar