Google+ Followers

Senin, 19 November 2012

Falsafah wali songo tembang jawa

WALI SONGO
Dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa jaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai
jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa.
Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan
lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat),
cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan, khususnya di Kerjaan Mataram (Yogya/Solo).
Dalam pertunjukkan wayang kulit yang palingdikenal adalah cerita tentang Serat Kalimasada (lembaran yang berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat ini akan menjadi sakti mandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini. Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan oleh dalang. Isi serat Kalimasada berbunyi "Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat.
Dalam pertunjukan wayangpun sang wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton wayang untuk Wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudhu yang disampaikan secara baik.
Dalam perkembangan selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansasimbolisasi yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu Ilir-Ilir .
Memang tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran islam, mengingat diperlukannya suatu keindahan dalam mengarang
suatu lagu. Sebagian arti yang kini banyak digali dari lagu ini diantaranya :
Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar: Ini adalah
sebuah diskripsi mengenai para pemuda, yang dilanjutkan dengan,
Cah angon,cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo sebo mengko sore: Cah angon adalah
simbolisasi dari manusia sebagai Khalifah Fil Ardh, atau
pemelihara alam bumi ini (angon bhumi). Penekno blimbing kuwi ,mengibaratkan buahBelimbing yang memiliki lima segi membentuk bintang. Kelima segi itu adalah pengerjaan
rukun islam (yang lima) dan Sholat lima waktu.
Sedang lunyu-lunyu penekno, berarti, tidak mudah untuk dapat mengerjakan keduanya (Rukun islam dan sholat lima waktu) ,dan memang jalan menuju ke surga tidak mudah dan mulus.
Kanggo sebo mengko sore , untuk bekal di hari esok (kehidupan setelah mati).
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar galangane: Selagi masih banyak waktu selagi muda, dan ketika tenaga masih kuat, maka lakukanlah (untuk beribadah).
Memang masih banyak translasi dari lagu ini, namun substansinya sama, yaitu membumikan agama, mensosialisasikan ibadah dengan tidak lupa tetap menyenangkan kepada pengikutnya yang baru.
Dalam lagu-lagu jawa, ada gendhing bernama Mijil, Sinom, Maskumambang, kinanthi, asmaradhana,hingga megatruh danpucung. Ternyata kesemuanya merupakan perjalanan hidup
seorang manusia. Ambillah Mijil,yang berarti keluar, dapat
diartikan sebagai lahirnya seorang jabang bayi dari rahim ibu.
Sinom dapat di artikan sebagai seorang anakmuda yang bersemangat untuk belajar. Maskumambang berarti seorang pria dewasayang cukup umur untuk menikah, sedangkanuntuk
putrinya dengan gendhingKinanthi. Proses berikutnya adalah pernikahan atau katresnanantar keduanya disimbolkan dengan Asmaradhana. Hingga akhirnya Megatruh, atau dapat dipisah
Megat-Ruh.Megat berarti bercerai atau terpisah sedangkan ruh adalah Roh atau jiwaseseorang. Ini proses sakaratul maut seorangmanusia. Sebagai umat beragama islam tentudalam prosesi penguburannya ,badan jenazah harus di kafani dengan kain putih,mungkin inilah yang disimbolkan dengan pucung (atau Pocong)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar