Google+ Followers

Senin, 12 November 2012

filosofi pacul

sejutakatanana
Home | Pages | Archives
Pacul
18 June 2012 9:27 pm
Dulu, waktu aku kecil, simbah buyutku mengajariku sebuah tembang dolanan gundhul-gundhul pacul…
Gundhul gundhul pacul cul… gembelengan…
Nyunggi nyunggi wakul kul… gembelengan…
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…
Tembang ini ceria, lincah, riang.. dulunya kupahami hanyalah tentang seorang anak berkepala gundul yang gembelengan (bergaya, tak bisa diam, pencilakan) yang sedang membawa bakul di atas kepalanya. Karena polahnya, bakul terguling dan nasi berserakan di pelataran dan tak bisa lagi dimakan..
Belakangan, muncul berbagai ulasan tentang makna dari tembang ini, seperti bisa dibaca di sini.
****
Lama berselang, saat aku tinggal di Jakarta, dari dalam bis yang kutumpangi, aku melihat beberapa cangkul berderet-deret di trotoar, di atas setiap tangkainya, digantungkan topi atau penutup kepala lainnya. Aku heran, untuk apa cangkul-cangkul itu antri di situ?
Tiba-tiba, segerombolan lelaki berlarian serempak, menyambar pacul-pacul itu lalu meloncat ke atas sebuah mobil pick up yang lewat. Tak tertukar, karena ditandai topi pemiliknya. Begitu saja aku langsung maklum, mereka tentunya kuli yang mengandalkan cangkul untuk bekerja sehari-hari. Bayangkan jika cangkul itu rusak atau hilang… duhh…
Nah, aku tergelitik untuk menuliskan tentang pacul ini, -awalnya, gegara sebuah judul film yang sangat menggelikan buatku: Kak*k Cangkul.
Film produksi anak bangsa bergenre horor ini, -maaf beribu maaf- tidak menarik minatku untuk menontonnya.
Sepertinya, ini tentang arwah seorang kakek yang gentayangan sambil membawa cangkul ke mana-mana. Cangkul itulah bagian utama dari horor-nya. Aihh..aya-aya wae…
****
Yah, sangat bertolak belakang dengan filosofiJawa yang pernah kudengar.
(Terima kasih untuk sahabatku Om Widi yangtelah menjabarkannya untukku dan jadilah ide tulisan ini).
Pacul , atau cangkul dalam Bahasa Indonesia, dalam masyarakat petani Jawa mempunyai makna filosofi yang sangat mendalam. Sederhana, sesederhana alatnya, namun sangat sarat makna…
Pacul , -dalam keratabasa Jawa , dijabarkan sebagai sipat papat sing ora keno ucul (empat sifat yang tidak boleh lepas satu dengan lainnya).
Pacul terdiri dari 4 bagian.
1. Doran = aja maido Sang Pangeran
Jangan membantah/mendebat Pangeran (Tuhan-red)
Doran ini berfungsi sebagai tangkai pacul.
2. Tandhing = sejatinya hidup itu adalah bertanding setiap saat.
Tandhing ini adalah ganjal yang “mengikat” bagian tangkai dan mata pacul agar kuat dan tidak mudah lepas.
3. Bawak = Obahing awak . Tubuh yang bergerak. Artinya, orang harus bekerja untukmencari nafkah agar bisa makan dan melanjutkan hidup.
Bawak adalah bagian belakang mata cangkul (yang lebih tebal) yang berdekatan dengan tangkai.
4. Landhep = tajam. Pikiran harus selalu tajam, harus terus diasah agar berdaya gunadan tetap cermat/bijaksana supaya bagian yang tajam (baca; kecerdasan, tutur dan tingkah laku) tak melukai diri sendiri dan orang lain.
Landhep ini adalah bagian mata pacul bagian depan yang sangat tajam, berfungsi untuk menggali tanah, membersihkan rumput, menggemburkan tanah dsb. Pengguna cangkul harus berhati-hati terutama pada bagian ini karena ketajamannya.
Keempat bagian ini harus disatukan, tak terpisahkan, sebab tanpa salah satu komponen tersebut, pacul /cangkul tak berfungsi.
Bagi wong tani mbiyen , pacul bermakna demikian.
Pacul iku gamane wong tani . Cangkul itu senjatanya petani. Orang hidup haruslah bekerja. Tidak hanya sekedar bekerja untuk makan saja, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan rohaninya..
Pacul iku dipanggul nang pundhak ora mung dicangking. Cangkul itu dibawa dengan cara dipanggul di pundak, bukan dijinjing. Setiap orang memanggul tanggungjawabnya sendiri. Orang harus bertanggungjawab penuh atas keselarasan keempat hal tersebutdalam hidupnya sehari-hari, dan bukannya mengentengkan/meremehkan seperti halnya menjinjing barang yang ringan.
Catatan: gambar kupinjam dari web ini.
Well… Maknanya sangat mendalam, bukan? Nggak sekedar alat menakut-nakuti seperti film itu…
****
Like
Be the first to like this.
Posted by nanaharmanto
Categories: Uncategorized
Tags: bawak , cangkul , doran , film horor , gundul , kuli , landhep , pacul , petani , tajam , tandhing , tembang dolanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar