Google+ Followers

Minggu, 04 November 2012

Percakapan pun mulai mengalir. Rasa ingin tahu kami mulai menguat lagi ketika sudah memasuki pembahasan kembarmayang.
Kembar mayang memang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa ketika ada hajatan pernikahan, yang biasanya ditampilkan ketika resepsi atau walimatul ursy . Lambat laun nilai budaya ini mulai memudar, dari sejarah sampai filosofinya banyak yang tidak tahu. Hanya sekedar mengikuti kebiasaan dari orang-orang terdahulu.
“ Perintahe gusti, sing janur iku sanepan saking nur muhammad ”, kata Mbah Sulami. Kembar mayang itu menggambarkan perintah Allah dimana janur sendiri diartikan sebagai cahaya dari nabi Muhammad dan kitasebagai umatnya. Kembar itu artinya sama, sedangkan mayang adalah nama bunga jambe. Untuk secara detailnya beliau belum tahu bagaimana sejarah dari kembar mayangitu sendiri.
Kembar mayang dianggap sebagai simbol harapan-harapan atau do’a dari pihak pengantin. “ Ben mekar sembarange, njobo njero utawa lahir batine ”, tambah mbah Sulami. Yang artinya supaya merekah semuanya, luar dalam atau lahir batinnya.
Bagian dari kembar mayang terdiri dari janur yang dianyam sehingga membentuk uler-uleran , keris-kerisan , pecut-pecutan , payung-payungan , gunung-gunungan , manuk-manukan , dan debog , ditambah anak pohon pisang, mayang serta kembang panca warna (andong, ringin, puring dan lancuran).
Dari apa yang beliau paparkan membuat kami semakin penasaran untuk tahu lebih dalam, tentunya di dalam kembar mayang sendiri juga banyak simbol-simbol yang terbuat dari janur. Dengan filosofi yang berbeda-beda pula sesuai dengan simbol yang ada. Misalnya saja; manuk-manukan (burung-burungan) dari janur yang dibentuk atau dianyam sehingga membentuk seperti burung yang filosofinya “ Goleki tapake kuntul melayang, gegayuhane manungsa ”, papar beliau. Yang artinya mencari jejaknya burung ketika terbang, dan itu menggambarkan harapan atau cita-cita manusia. Dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia harus memiliki cita-cita yang tinggi setinggi burung terbang di awan tanpa ada jejak (tiada terbatas).
Kemudian dari debog (pohon pisang) itu menggambarkan bumi tempat manusia berpijak. Uler-uleran , janur yang dibentuk seperti ulat. Yang artinya jangan sampai kalahdengan ulat, ulat saja bisa terbang ketika dia tirakat , sehingga menjadi kupu-kupu dengansayap yang indah. Sama halnya dengan manusia, jika mau sukses maka harus tirakat dahulu. Gunung-gunungan memiliki arti “ guneman ” yang artinya perkataan, jadi manusia harus bisa menjaga perkataan. Sedangkan janur yang dibentuk menyerupai keris dan pecut diartikan sebagai tulak balak, dijauhkan diri dari musibah dan mengusir roh jahat. Janur yang dibentuk menyerupai payung diartikan sebagai pengayoman, kudung tutup, aling-aling yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pelindung atau benteng.
Kembar mayang bukan hal yang asing lagi di wilayah Jawa. Karena sudah menjadi ciri khas dari hajatan pengantin. Ada juga yang tidak percaya bahwa kembar mayang tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehidupan mempelai setelah menikah, sehingga tidak ada kembar mayangdan ritual-ritual yang lain.
***
Tak semudah yang kami kira, untuk mencari data tentang kembar mayang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesepuh Jawa banyak yang tidak tahu tentang sejarah dari munculnya kembar mayang.
Perjalanan hari kedua pun kami tempuh untuk memenuhi jawaban dari rasa penasaran kami. Seusai maghrib kami bergegas menuju pinggiran Kota Blitar, tepatnya Kelurahan Tanggung RT 01 RW 07 untuk menemuhi modin yang biasa dikenal dengan Mbah Suyud. Dengan cuaca yang kurang mendukung, hujan deras dan jalan yang amat ramai tidak mengurangi semangatkami untuk tetap berkunjung ke kediaman Mbah Suyud. Selang beberapa menit kami sampai di rumah beliau, meski sempat hampir tersesat di sungai.
Sesampainya di sana kami mengucap salam, dengan ramah seorang pemuda menjawab
salam dari kami. Yang ternyata dia adalah putra dari Mbah Suyud. Kami dipersilahkan masuk. Tak lama kemudian seorang kakek dengan pakaian rapi, bersarung lengkap dengan songkok yang dikenakannya menunjukan beliau seorang muslim yang sangat taat kepada Sang Pencipta, beliaulah Mbah Suyud yang kami cari.
Setelah sedikit berbasa-basi kami langsung menghujani Mbah Suyud dengan beberapa pertanyaan tentang kembar mayang. Memang kesannya kami terlihat menggebu-gebu untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasaran kami.
Kembar mayang itu simbol kemekaran, mekar budaya juga mekar rezeki.“ Mboten luwes menawi mboten ndamel kembar mayang mbak ”, tutur Mbah Suyud, lelaki yang sudah lebih dari 30 tahun berprofesi menjadi modin/ pembuat kembar mayang.
Sejarah dari kembar mayang sendiri begitu rumit dan panjang. Mbah Suyud yang kami wawancarai pun kurang begitu paham tentang sejarah tersebut. Walaupun kami sedikit memaksa, namun beliau dengan sedikit guyonan agaknya enggan untuk menceritakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar